Senin, 16 Mei 2011

Contoh-contoh Surat Lamaran Kerja

Contoh-contoh
Surat Lamaran Kerjadalam Bahasa Indonesia
Di bawah ini diberikan 12 contoh Surat Lamaran Kerja dalam Bahasa Indonesia, yang mewakili berbagai kondisi dan situasi dari pelamar maupun penerima kerja.
Semoga 12 contoh surat ini dapat membantu anda.
Contoh ke 1.
Cibinong, 16 Mei 2011
Hal : Lamaran Pekerjaan

Kepada Yth.,
Manajer Sumber Daya Manusia
PT. Hand's Parmantindo

Jl. Raya Bumi Sentoda No. 5
Cibinong


Dengan hormat,
Bpk. Bambang Satrio, seorang asisten editor di PT. Hand's Parmantindo, menginformasikan kepada saya tentang rencana pengembangan Departemen Finansial PT. Hand's Parmantindo.
Sehubungan dengan hal tersebut, perkenankan saya mengajukan diri (melamar kerja) untuk bergabung dalam rencana pengembangan PT. Hand's Parmantindo.
Mengenai diri saya, dapat saya jelaskan sebagai berikut :

Nama
Tempat & tgl. lahir
Pendidikan Akhir
Alamat
Telepon, HP, e-mail
Status Perkawinan
: Florentina Putri
: Probolinggo, 5 Agustus 1979
: Sarjana Akuntansi Universitas Pancasila - Jakarta
: Perum Bojong Depok Baru 1, Blok ZT No.3, Cibinong 16913
: 021 - 87903802, HP = 0817 9854 203, e-mail = putri.flo@gmail.com
: Menikah.
Saat ini saya bekerja di PT. Flamboyan Bumi Singo, sebagai staf akuntasi dan perpajakan, dengan fokus utama pekerjaan di bidang finance dan perpajakan.
Sebagai bahan pertimbangan, saya lampirkan :
  1. Daftar Riwayat Hidup.
  2. Foto copy ijazah S-1.
  3. Foto copy sertifikat kursus/pelatihan.
  4. Pas foto terbaru.
Besar harapan saya untuk diberi kesempatan wawancara, dan dapat menjelaskan lebih mendalam mengenai diri saya. Seperti yang tersirat di resume (riwayat hidup), saya mempunyai latar belakang pendidikan, pengalaman potensi dan seorang pekerja keras.
Demikian saya sampaikan. Terima kasih atas perhatian Bapak.

Hormat saya,



Florentina Putri

Kota Tua Jakarta

Kota Tua Jakarta


Bekas Tentang suara ini Stadhuis (Balai Kota) Batavia, kantor Gubernur Jenderal VOC. Bangunan ini sekarang menjadi Museum Sejarah Jakarta.
Kota Tua Jakarta, juga dikenal dengan sebutan Batavia Lama (Oud Batavia), adalah sebuah wilayah kecil di Jakarta, Indonesia. Wilayah khusus ini memiliki luas 1,3 kilometer persegi melintasi Jakarta Utara dan Jakarta Barat (Pinangsia, Taman Sari dan Roa Malaka).
Dijuluki "Permata Asia" dan "Ratu dari Timur" pada abad ke-16 oleh pelayar Eropa, Jakarta Lama dianggap sebagai pusat perdagangan untuk benua Asia karena lokasinya yang strategis dan sumber daya melimpah.

Daftar isi

[sembunyikan]

Sejarah

Peta Batavia tahun 1740. Wilayah Batavia di dalam dinding kota serta paritnya dan Pelabuhan Sunda Kelapa di kiri (utara) peta membentuk Kota Tua Jakarta.
Tahun 1526, Fatahillah, dikirim oleh Kesultanan Demak, menyerang pelabuhan Sunda Kelapa di kerajaan Hindu Pajajaran, kemudian dinamai Jayakarta. Kota ini hanya seluas 15 hektar dan memiliki tata kota pelabuhan tradisional Jawa. Tahun 1619, VOC menghancurkan Jayakarta di bawah komando Jan Pieterszoon Coen. Satu tahun kemudian, VOC membangun kota baru bernama Batavia untuk menghormati Batavieren, leluhur bangsa Belanda. Kota ini terpusat di sekitar tepi timur Sungai Ciliwung, saat ini Lapangan Fatahillah.
Penduduk Batavia disebut "Batavianen", kemudian dikenal sebagai suku "Betawi", terdiri dari etnis kreol yang merupakan keturunan dari berbagai etnis yang menghuni Batavia.
Tahun 1635, kota ini meluas hingga tepi barat Sungai Ciliwung, di reruntuhan bekas Jayakarta. Kota ini dirancang dengan gaya Belanda Eropa lengkap dengan benteng (Kasteel Batavia), dinding kota, dan kanal. Kota ini diatur dalam beberapa blok yang dipisahkan oleh kanal [1]. Kota Batavia selesai dibangun tahun 1650. Batavia kemudian menjadi kantor pusat VOC di Hindia Timur. Kanal-kanal diisi karena munculnya wabah tropis di dalam dinding kota karena sanitasi buruk. Kota ini mulai meluas ke selatan setelah epidemi tahun 1835 dan 1870 mendorong banyak orang keluar dari kota sempit itu menuju wilayah Weltevreden (sekarang daerah di sekitar Lapangan Merdeka). Batavia kemudian menjadi pusat administratif Hindia Timur Belanda. Tahun 1942, selama pendudukan Jepang, Batavia berganti nama menjadi Jakarta dan masih berperan sebagai ibu kota Indonesia sampai sekarang.
Tahun 1972, Gubernur Jakarta, Ali Sadikin, mengeluarkan dekrit yang resmi menjadikan Kota Tua sebagai situs warisan. Keputusan gubernur ini ditujukan untuk melindungi sejarah arsitektur kota — atau setidaknya bangunan yang masih tersisa di sana.
Meski dekrit Gubernur dikeluarkan, Kota Tua tetap terabaikan. Banyak warga yang menyambut hangat dekrit ini, tetapi tidak banyak yang dilakukan untuk melindungi warisan era kolonial Belanda.[2]

Tempat yang sudah dihancurkan

Dalam pengembangan daerah Jakarta, pemprov DKI Jakarta menghancurkan beberapa bangunan atau tempat yang berada di daerah kota Tua Jakarta engan alasan tertentu. Tempat tersebut adalah:

Tempat menarik dan bersejarah

Kantor Pos di Kota Tua
Sebagai permukiman penting, pusat kota, dan pusat perdagangan di Asia sejak abad ke-16, Oud Batavia merupakan rumah bagi beberapa situs dan bangunan bersejarah di Jakarta:[1]
Saat ini, banyak bangunan dan arsitektur bersejarah yang memburuk kondisinya[3] seperti: Museum Sejarah Jakarta (bekas Balai Kota Batavia, kantor dan kediaman Gubernur Jenderal VOC), Museum Maritim Nasional, Pelabuhan Sunda Kelapa, dan Hotel Omni Batavia.
Tetapi, masih ada usaha perbaikan Kota Tua, khususnya dari berbagai organisasi nirlaba, institusi swasta, dan pemerintah kota[4] yang telah bekerjasama untuk mengembalikan warisan Kota Tua Jakarta. Tahun 2007, beberapa jalan di sekitar Lapangan Fatahillah seperti Jalan Pintu Besar dan Jalan Pos Kota, ditutup sebagai tahap pertama perbaikan.

Minggu, 15 Mei 2011

ulat bulu

Siklus Aneh Dibalik Serangan Ulat Bulu

April 1, 2011 thephenomena
Serangan ulat bulu akhir-akhir ini sangat menggila, “Ini Wabah Ulat Bulu Terparah dalam Sejarah”, Ribuan pohon dipangkas untuk mengendalikan wabah ulat bulu di Purbolinggo, Ulat bulu serang pohon mangga dan rumah warga
Ulat bulu
Pohon mangga di Probolinggo gundul sebelum bisa berbunga
Penduduk Probolinggo direpotkan serangan ulat bulu yang juga menghabiskan dedaunan ekitar 9000 pohon mangga. “Di Kabupaten Probolinggo ini tanaman yang terserang 8.877, ini hasil surveillance di lapangan,” kata Kepala Dinas Pertanian Jawa Timur Wibowo Eko Putro.
Ulat bulu ini menyerang pohon mangga di Kecamatan Leces, Tegal Siwalan, Bantaran dan Sumber Asih. Wibowo mengatakan pihaknya telah melakukan penyemprotan pestisida selama tiga hari yang akan dilanjutkan sampai seminggu. “Ulat ini sebenarnya mencari tempat dalam rangka proses metamorfosis dari ulat menjadi kepompong,” kata Wibowo.

Minyak tanah

Namun seorang penduduk Desa Kerpangan di Kecamatan Leces, Qobil Yazid, mengatakan kepada BBC Indonesia dia belum pernah melihat serangan semacam ini selama puluhan tahun tinggal di desanya. “Satu pohon bisa gundul itu,” kata Yazid. Yazid mengatakan pemerintah juga melakukan penebangan dahan-dahan yang terserang ulat bulu. Yazid mengatakan penduduk berusaha mengatasi serangan ulat ini dengan menyemprotkan oli dan minyak tanah ke dinding dan lantai. Wibowo menduga bahwa begitu banyaknya ulat bulu yang bermigrasi ke dataran rendah disebabkan oleh hujan abu yang terjadi akibat letusan Gunung Bromo. “Banyak tanaman di dataran tinggi yang mati,” kata Wibowo.
Wibowo mengatakan ulat bulu memilih pohon mangga karena pohon inilah yang tertinggi di dataran rendah. Probolinggo terkenal sebagai produsen mangga dan serangan ini terjadi sebelu pohon mangga berbunga yang biasanya terjadi pada bulan April. Dinas Pertanian Jawa Timur juga sudah meminta petugasnya untuk mengawasi keadaan di daerah-daerah yang bertetangga dengan Probolinggo seperti Pasuruan, Situbondo dan Bondowoso agar serangan ulat bulu ini tidak menyebar lebih jauh lagi
Dibalik Serangan Ulat Bulu Ada Apa ?
Kejadian tahun 2011 ini serupa dengan serangan ulat bulu yang terjadi pada tahun 2009 lalu, tercatat dua kota yang terkena serangan ulat bulu ini, bandung dan lamongan. Awal kejadian di bandung, tgl 26-maret-2009, Serangan Ulat di Setrasari Baru Pertama Kali Terjadi di Bandung, Warga Perumahan Elite Setrasari Diserang Ulat Bulu akibatnya, Diserang Ulat Bulu, Warga Sempat Ngungsi ke Hotel

Bandung – Saking banyaknya ulat bulu yang menyerang rumah warga, bahkan hingga ke kamar tidur, ada warga yang terpaksa mengungsi ke hotel. Ulat bulu yang jumlahnya ribuan itu telah menyerang perumahan elite, Komplek Setrasari, tepatnya di Jalan Setrasari Kulon Raya sejak Kamis (26/3/2009). Angi (35), pemilik rumah di Jalan Setrasari Kulon Raya No 26 B, mengaku keluarganya terpaksa mengungsi ke hotel karena sudah tak tahan diserang ulat bulu. “Tadi malam kami sekeluarga terpaksa menginap di hotel. Lama-lama kami geli juga karena ulatnya sudah masuk sampai kamar,” ujarnya saat ditemui di kediamannya, Sabtu (28/3/2009). Menurutnya ulat-ulat itu merayap di dinding rumah, halaman rumah, bahkan juga masuk kamar tidur. “Yang paling banyak hari Jumat. Keset di depan rumah saya yang warna cokelat berubah warna jadi hitam. Pas diteliti ternyata ulat semua,” ujarnya sambil bergidik. “Awalnya anak saya senang, karena dia suka sekali dengan binatang. Tapi lama kelamaan jadi ngeri juga. Sudah saya sapu, tapi tetap ada. Bahkan saya mengumpulkannya sampai satu toples,” sambungnya. Angi bercerita pemilik rumah yang berada di belakang rumahnya sempat marah-marah karena jemurannya banyak ulat. “Awalnya dia mengira ulat itu dari rumah saya. Padahal tembok belakang rumahnya itu kan berbatasan dengan lahan kosong. Nah kebetulan itu pas bagian jemuran,” tutur Angi.
Ribuan ulat bulu yang menyerang beberapa rumah warga itu berasal dari dua puluh Pohon Kaliki yang tumbuh di lahan kosong.

pingin sukses

Pingin Sukses : Jangan Baca Koran Pagi Hari !


00-10:00Membaca koran yang masih paling anget emang paling sering dilakukan pada waktu pagi. Biasanya bangun tidur ketika ada penjaja koran teriak … “koo.. raannya koran !” atau koran diantar kedepan pintu.
Banyak yg merasa hebat kalau semua orang belum tahu berita dan anda akan tahu paling duluan, ntar kalo dikantor biar seolah-olah menjadi orang paling up to date !
Berita apa yg menyita waktu pagi anda? Apa pengaruhnya pada jam-jam nanti di kantor. Koran apa yg anda baca ? Atau barangkali situs berita apa yg anda baca di internet setiap pagi ?

Hampir semua berita koran dimana saja sering didahului atau dibumbui dengan issue Negatif. Coba saja lihat isinya, hampir semua headline diawali dengan berita tidak mengenakkan. Berita bencana, berita kerusakan, berita protes.
Mengapa ?
Ah, semua orang termasuk anda juga sudah tahu bahwa berita buruk jelas lebih laku dibanding berita baik. Iya kan ? Lah para wartawan, redaksi, dan pengusaha media itu malah lebih mengerti perilaku pembaca dan penikmat berita seperti kita-kita ini. Bahkan mereka melakukan survey pemasaran berita, setiap kota pemasarannya berbeda-beda tentunya.
Secara umum di Indonesia ini ‘kegagalan lebih bernilai sebagai berita‘ daripada kesuksesan. Dan biasanya ada nada kebanggaan bagi media yg berhasil membongkar kejahatan … Dah, lah ngomongin media emang kepanjangan ngabisin energi. Dan perilaku itu selalu dicat dengan bumbu demokrasi dan kebiadaban kebebasan ekspresi.
Hal ini tentunya termasuk juga yang ada di berita TV pagi,
Membaca tentu sesuatu hal yang wajib, mengetahui sesuatu hal yang baru tentu wajib. Apalagi perubahan dunia terasa sangat cepat. Nah tapi kenapa jangan dibaca dipagi hari ?
Awali pagi dengan berita gembira !
Pagi hari pikiran manusia masih relatif bersih setalah bangun tidur, suasana pagi akan sangat-sangat mempengaruhi suasana hati (mood) yang jelas berpengaruh pada prestasi kerja siang hari di kantor ataupun ditempat kerja lain. Kalau berita buruk merasuki pikiran ini, maka mood atau suasana hati akan sangat terpengaruh.
Iya lah, masak pagi-pagi dijejali kisah kesulitan. Masak sih mata masih susah dibuka eh udah ngedengerin berita TV yg isinya berdarah-darah. Jadi jangan racuni otak anda dengan berita di pagi.
Apa yg sebaiknya dilakukan dipagi hari ? Olah raga, sholat bagi yg muslim, dan kalau memang ingin membaca sambil nyruput kopi atau teh manis maka sebaiknya membaca majalah atau yg berhubungandengan pekerjaan.
Membaca artikel yg cukup serius dan ilmiah akan sangat mudah masuk ke memori otak dipagi hari. Membaca teksbook, membaca majalah ilmiah akan lebih mengena, dan sangat mungkin membuka mata akan adanya penyeleseian problem di kantor nanti.
Bacalah koran dan berita (news) setelah makan siang !
Tentunya saya tidak bermaksud melarang membaca berita, tetapi bagaimanapun hampir semua pekerjaan anda tidak akan terpengaruh dengan berita kejadian buruk yg dibuat pagi ini. (Kecuali orang-orang tertentu yang tugasnya membuat klipping berita tentunya).
Bahkan muka masam serta senyum kecut anda mungkin akan mempengaruhi mood atau suasana hati. Sehingga membaca berita koran akan lebih nyaman dan tidak mempengaruhi suasanan hati ketika bekerja apabila dibaca setelah 3-4 jam bekerja.
Ketika pekerjaan pagi sudah mulai lancar tinggal menyeleseikan dan melanjutkan mungkin membaca koran bisa dipakai sebagai selingan. Sehingga membaca koran sebaiknya dibaca setelah makan siang.

PENGUMUMAN UJIAN AKHIR NASIONAL

 

PENGUMUMAN UJIAN AKHIR NASIONAL ONLINE SMKDKI

DINAS PENDIDIKAN PROVINSI DKI JAKARTA
 

 Nomor Peserta Ujian : 02-002-132-5
 Asal Sekolah : SMK Negeri 36 Jakarta
 Nama Lengkap : RIKI RAJAD
 Mata Pelajaran
 
Nilai
 Bahasa Indonesia 6.60
 Bahasa Inggris 8.30
 Matematika 8.20
 Kompetensi 8.00
 Jumlah NEM 
: 31.10
Rata-rata 
: 7.78



 Keterangan 
:
-
 

Rabu, 20 April 2011

Abdurrahman Wahid

Abdurrahman Wahid

Kyai Haji Abdurrahman Wahid

In office
20 October 1999 – 23 July 2001
Vice President Megawati Sukarnoputri
Preceded by Bacharuddin Jusuf Habibie
Succeeded by Megawati Sukarnoputri

Born 7 September 1940(1940-09-07)
Jombang, East Java, Dutch East Indies
Died 30 December 2009(2009-12-30) (aged 69)
Jakarta, Indonesia
Resting place Jombang, East Java, Indonesia
Political party National Awakening Party
Spouse(s) Shinta Nuriyah
Profession Religious Leader, Politician
Religion Islam
Website www.gusdur.net
Abdurrahman Wahid, born Abdurrahman Addakhil[1][2] (7 September 1940 – 30 December 2009), colloquially known as About this sound Gus Dur , was an Indonesian Muslim religious and political leader who served as the President of Indonesia from 1999 to 2001. The long-time president of the Nahdlatul Ulama and the founder of the National Awakening Party (PKB), Wahid was the first elected president of Indonesia after the resignation of Suharto in 1998.
Like many Indonesian names, "Abdurrahman Wahid" does not contain a family name. The name "Wahid" is patronymic. His popular nickname Gus Dur, is derifed from Gus, a common honorific for a son of kyai, from short-form of bagus ('handsome lads' in Javanese language[3]); and Dur, short-form of his name, Abdurrahman.

Contents

[show]

Early life

Abdurrahman Wahid in his youth
Abdurrahman ad-Dakhil Wahid was born on the fourth day of the eighth month of the Islamic calendar in 1940 in Jombang, East Java to Abdul Wahid Hasyim and Siti Solichah. This led to a belief that he was born on 4 August; instead, using the Islamic calendar to mark his birth date meant that he was actually born on 4 Sha'aban, equivalent to 7 September 1940. He was named after Abd ar-Rahman I of the Umayyad Caliphate who brought Islam to Spain and was thus nicknamed "ad-Dakhil" ("the conqueror"). His name is stylized in the traditional Arabic naming system as "Abdurrahman, son of Wahid".
He was the firstborn out of his five siblings, and Wahid was born into a very prestigious family in the East Java Muslim community. His paternal grandfather, Hasyim Asy'ari was the founder of Nahdlatul Ulama (NU) while his maternal grandfather, Bisri Syansuri was the first Muslim educator to introduce classes for women.[4] Wahid's father, Wahid Hasyim, was involved in the Nationalist Movement and would go on to be Indonesia's first Minister of Religious Affairs.
In 1944, Wahid moved from Jombang to Jakarta where his father was involved with the Consultative Council of Indonesian Muslims (Masyumi), an organization established by the Imperial Japanese Army which occupied Indonesia at the time. After the Indonesian Declaration of Independence on 17 August 1945, Wahid moved back to Jombang and remained there during the fight for independence from the Netherlands during the Indonesian National Revolution. At the end of the war in 1949, Wahid moved to Jakarta as his father had received appointment as Minister of Religious Affairs. Wahid went about his education in Jakarta, going to KRIS Primary School before moving to Matraman Perwari Primary School. Wahid was also encouraged to read non-Muslim books, magazines, and newspapers by his father to further broaden his horizons.[5] Wahid stayed in Jakarta with his family even after his father's removal as Minister of Religious Affairs in 1952. In April 1953, Wahid's father died after being involved in a car crash.
In 1954, Wahid began Junior High School. That year, he failed to graduate to the next year and was forced to repeat. His mother then made the decision to send Wahid to Yogyakarta to continue his education. In 1957, after graduating from Junior High School, Wahid moved to Magelang to begin Muslim Education at Pesantren (Muslim School) Tegalrejo. He completed the pesantren's course in two years instead of the usual four. In 1959, Wahid moved back to Jombang to Pesantren Tambakberas. There, while continuing his own education, Wahid also received his first job as a teacher and later on as headmaster of a madrasah affiliated with the Pesantren. Wahid also found employment as a journalist for magazines such as Horizon and Majalah Budaya Jaya.

Overseas education

In 1963, Wahid received a scholarship from the Ministry of Religious Affairs to study at Al Azhar University in Cairo, Egypt. He left for Egypt in November 1963. Unable to provide evidence to certify that he spoke Arabic, Wahid was told when arriving that he would have to take a remedial class in the language before enrolling at the University's Higher Institute for Islamic and Arabic studies.
Instead of attending classes, Wahid spent 1964 enjoying life in Egypt; watching European and American movies as well indulging in his hobby of watching football. Wahid was also involved with the Association of Indonesian Students and became a journalist for the association's magazine. After passing the remedial Arabic examination, he finally began studies at the Higher Institute for Islamic and Arabic Studies in 1965, but was disappointed. He had already studied many of the texts offered at the Institute in Java and disapproved of the rote learning method used by the University.[6] Wahid attended Karachi Grammar School in Pakistan. In Egypt, Wahid found employment with the Indonesian Embassy. It was during his stint with the Embassy that coup attempt was launched by the 30 September Movement, which the Communist Party of Indonesia was accused of leading. With Army Stretegic Reserves commander Major General Suharto taking control of the situation in Jakarta, a crackdown against syspected communists was initiated. The Indonesian Embassy in Egypt was ordered to conduct an investigation into the political views of university students. This order was passed to Wahid, who was charged with writing the reports.[7]
Wahid's displeasure at the method of education and his work following the coup attempt distracted him from his studies. Wahid sought and received another scholarship at the University of Baghdad and moved to Iraq. There Wahid continued his involvement with the Association of Indonesian Students as well as with writing journalistic pieces to be read in Indonesia.
After completing his education at the University of Baghdad in 1970, Wahid went to the Netherlands to continue his education. Wahid wanted to attend Leiden University but was disappointed as there was little recognition for the studies that he had undertaken at the University of Baghdad. From the Netherlands, Wahid went to Germany and France before returning to Indonesia in 1971.

Early career

Wahid returned to Jakarta expecting that in a year's time, he would be abroad again to study at McGill University in Canada. He kept himself busy by joining the Institute for Economic and Social Research, Education and Information (LP3ES),[8] an organization which consisted of intellectuals with progressive Muslims and social-democratic views. LP3ES established a magazine called Prisma and Wahid became one of the main contributors to the magazine. Whilst working as a contributor for LP3ES, Wahid also conducted tours to pesantrens and madrasahs all around Java. It was a time when pesantren were desperate to gain state funding by adopting state-endorsed curricula and Wahid was concerned that the traditional values of the pesantren were being damaged because of this change. Wahid was also concerned with the poverty of the pesantren which he saw during his tours. At the same time as they were encouraging pesantren to adopt state-endorsed curricula, the Government was also encouraging pesantren as agents for change and to help assist the Government in its economic development of Indonesia. It was at this time that Wahid finally decided to drop plans for overseas studies in favor of developing the pesantren.
Wahid continued his career as a journalist, writing for magazine Tempo and Kompas newspaper. His articles were well-received and he began to develop a reputation as a social commentator. Wahid's popularity was such that at this time, he was invited along to give lectures and seminars, forcing him to travel back and forth between Jakarta and Jombang, where he now lived with his family.
Despite having a successful career up to that point, Wahid still found it hard to make ends meet and he worked to earn extra income by selling peanuts and delivering ice to be used for his wife's Es Lilin (popsicle) business.[9] In 1974, Wahid found extra employment in Jombang as a Muslim Legal Studies teacher at Pesantren Tambakberas and soon developed a good reputation. A year later, Wahid added to his workload as a Teacher of Kitab Al Hikam, a classical text of sufism.
In 1977, Wahid joined the Hasyim Asyari University as Dean of the Faculty of Islamic Beliefs and Practices. Once again, Wahid excelled in his job and the University wanted to Wahid to teach extra subjects such as pedagogy, sharia, and missiology. However, his excellence caused some resentment from within the ranks of university and Wahid was blocked from teaching the subjects. Whilst undertaking all these ventures Wahid also regularly delivered speeches during Ramadan to the Muslim community in Jombang.

Perompakan

Perompakan

Bendera Jolly roger, lambang yang dipakai oleh kebanyakan bajak laut
Pembajakan laut, atau perompakan, adalah perampokan yang dilakukan di lautan, atau kadang-kadang di pantai.
“Dalam pekerjaan biasa dan terhormat, berarti bekerja mati-matian untuk upah yang sedikit. Sedangkan kehidupan seorang bajak laut, adalah puncak kemenangan dan keserakahan, kepuasan dan kekayaan, kebebasan dan lagi kekuasaan” - Bartholomew Roberts

Sejarah

Bisa dikatakan bahwa sejarah perompakan terjadi secara bersamaan dengan sejarah navigasi. Di sana, di mana terdapat kapal-kapal yang mengangkut dagangan, muncul bajak laut yang siap memilikinya secara paksa. Telah dikenal terjadinya pembajakan sejak zaman Yunani kuno. Termasuk dalam zaman republik Romawi mengalami pembajakan oleh para perampok laut. Sejak itu mereka membajak semua kapal yang saat ini terapung di lautan dekat Borneo dan Sumatra. Namun demikian, yang terbaik pada sejarahnya yang panjang tertulis pada abad ke-16 dan 17, zaman keemasan bajak laut.

Perompakan di Karibia

Bab yang bersifat paling dalam pada sejarah perompakan berhubungan dengan perkembangan kawasan Karibia pada era itu, episode yang secara melekat berhubungan dengan sejarah keberadaan kerajaan Spanyol di benua Amerika.
Asal dari perbajaklautan di Karibia harus dicari dalam keputusan Paus Alejandro VI, tahun 1493, di mana Spanyol dan Portugis dianugerahkan hak untuk memiliki tanah asing yang mereka temukan, setelah kedatangan Christopher Columbus di Dunia Baru.
Kepemilikan Spanyol bersituasi dari garis batas yang ditentukan, 100 league (3 mil) ke sebelah barat Pulau Cabo Verde; teritori yang bersituasi dari sebelah timur garis yang tersebut di atas, adalah teritori Portugis.
François I dari Perancis protes terhadap keputusan yang dibuat oleh Paus. Ia berkata kepada Paus: “Saya ingin melihat testamen Adam, apa alasannya saya tidak dimasukkan ke dalam bagian dari dunia ini”.
Kerajaan Inggris, masih belum mempunyai Angkatan Laut, tidak dapat turut campur dalam masalah ini, namun tahun-tahun belakangan Drake berkata: “Tidak akan ada perdamaian di seberang garis itu”.
Perancis dan Inggris akhirnya terdampar di luar garis kekayaan Amerika; dan Spanyol, dengan politik yang salah, memperburuk lagi situasi dengan menutup perdagangan di Dunia Baru terhadap orang-orang asing. Semua kapal asing yang berlaut di lautan Dunia Baru mulai dari waktu itu dianggap bajak laut.
Reaksi pertama muncul dari Perancis. Karena François I kekurangan angkatan laut, ia memprovokasi pelaut-pelaut swasta untuk membajak dan sekitar tahun 1537 Karibia mulai dipenuhi oleh para bajak laut Perancis.
Setelahnya, Inggris mulai memperhatikan atensinya pada Amerika dan, bermimpi akan rampasan harta karun, muncullah pertama kalinya bajak laut Inggris di Karibia, di bawah perlindungan Ratu Elizabeth.
Kebanyakan dari mereka adalah bangsawan, dan jika bukan, ratu memberikan keleluasaan pada mereka untuk masuk dalam kebangsawanan.
Pada kesempatan tertentu, duta Spanyol meminta kepada Ratu dari Inggris untuk mengeksekusi Drake dengan alasan perampokan, setelah ia merampok beberapa tempat. Sebagai jawaban Ratu Elizabeth menunggu pelaut itu di Tamesis untuk memberikan dukungannya pada kesatria itu di sana.

Perompakan di Asia Tenggara

Perompakan sudah lama berlangsung di perairan Asia Tenggara. Selama abad ke-19 Selat Malaka telah lama menjadi jalur laut penting bagi kapal-kapal yang berlayar dari India dan dari Atas Angin ke Tiongkok. Nusantara dipenuhi oleh ribuan pulau, selat-selat sempit, dan muara sungai, yang semuanya menjadi tempat persembunyian sempurna untuk perompak. Fakta geografi ini, beserta dengan faktor-faktor lain, memudahkan perompakan: geografi Kepulauan Nusantara membuat patroli laut menjadi tugas yang sangat sulit.
Perompak tradisional di Asia Tenggara adalah Orang Laut, atau disebut juga Lanun. Mereka bermukim di perkampungan pesisir negara Malaysia, Indonesia, dan Filipina modern.
Bajak laut Tionghoa juga ditemukan dalam jumlah berarti, biasanya orang-orang terbuang dari masyarakat Tiongkok masa dinasti Ching. Mereka menemukan relung dengan memangsa kapal-kapal yang berdagang di Laut China Selatan dengan menggunakan Kapal Jung.
Perompakan juga dapat dilihat sebagai bentuk peperangan yang dilakukan penduduk asli untuk melawan pengaruh Eropa, yang merusak tatanan tradisional masyarakat pedagang di Asia Tenggara.
Lihat pula: Perompakan di Selat Malaka

Perompakan di Asia Timur

Perompakan bajak laut Jepang
Wokou atau Bajak laut Jepang (aksara Kanji: 倭寇 wōkòu; pengucapan Jepang: wakō; pengucapan Bahasa Korea : 왜구 waegu) were adalah bajak laut yang merampok pesisir of Tiongkok dan Korea mulai dari abad ketiga belas. Wokou umumnya terdiri dari bajak laut, serdadu, ronin, pedangang dan penyelundup berkebangsaan Jepang.
Tahap awal aktivitas Wokou dimulai pada abad ketiga belas dan berlanjut sampai paruh kedua abad keempat belas. Bajak laut jepang memusatkan perhatian di Semenanjung Korea dan menyebar melintasi Laut Kuning ke Tiongkok. Mengikuti aktivitas bajak laut wokou pada saat itu Dinasti Ming berusaha melarang perdagangan sipil dengan Jepang, meskipun masih mempertahankan perdagangan antarpemerintah. Embargo ini tidak berhasil, dan memaksa para saudagar Tiongkok melindungi kepentingan mereka. Mereka melawan perintah Kekaisaran Dinasti Ming dan berdagang dengan Jepang secara ilegal. Perdagangan antarpemerintah tidak mencukupi keperluan dan membuat banyak perajin bangkrut. Ini memicu tahap kedua aktivitas para Wokou.
Tahap kedua Wokou berlangsung dari awal sampai pertengahan abad keenam belas. Dalam masa ini komposisi dan kepemimpinan para Wokou bergeser menjadi sepenuhnya di Tiongkok. Dalam puncak keemasannya pada dasawarsa 1550-an, Wokou beroperasi di lautan Asia Timur, bahkan berlayar memudiki sungai-sungai besar seperti Sungai Yangtze.